Nono Elsa Barto Blog

Oktober 30, 2009

Luar Negeri rasa Dalam Negeri

Diarsipkan di bawah: Internet Stuff — elsabarto @ 3:46 pm

Kasimex House Band
Genre : SKA

 

Indah Onny
Genre : Keroncong

jadi pengen pulkam ke Solo :lol:

sumber : soegijoma.com

Oktober 28, 2009

Maukah Kita Belajar kepada India???

Diarsipkan di bawah: Lingkungan — elsabarto @ 9:20 am

Oleh Syaifoel Hardy

Dalam sebuah ceramah akbar di Dubai-UAE beberapa tahun lalu, saya sempat bertanya kepada Dr. Zakir Naik, ulama besar asal India, ahli perbandingan agama yang tersohor namanya. Subyek pertanyaan saya adalah mengapa Islam boleh dikata tidak berhasil di India padahal India pernah di bawah sebuah kerajaan besar Islam, misalnya kekaisaran Mughal yang terkenal dengan Taj Mahal, atau Kerajaan Mysore yang terkenal pula dengan Isnata Maysore yang terindah didunia, bahkan melebihi Istana Birmingham. Dr. Zakir Naik menjawab, bahwa petinggi-petinggi kerajaan Islam di India waktu itu lebih memfokuskan kepada bangunan-bangunan fisik ketimbang dakwah Islam. Itulah salah satu faktor utama mengapa Islam malah menjadi minoritas di sana.
Ingin mengetahui lebih dekat jejak-jejak kebesaran Islam di India inilah yang manjadi salah satu motivasi saya untuk ingin melihat dari dekat apa dan bagaimana sebenarnya India. Disamping tentu saja banyak hal yang melatar-belakangi kunjungan saya, misalnya silaturahim dengan rekan-rekan kerja saya yang sudah mengundurkan diri, melihat institusi pendidikan serta mencari buku-buku India sesuai dengan profesi saya.
Banyak hikmah yang bisa depetik dari rangkaian perjalanan saya selama dua minggu di India, di empat negara bagian: Karnataka, Kerala, Delhi dan Uthar Pradesh. Jika dijabarkan satu persatu, terlalu panjang untuk diungkap di sini. Yang saya ingin soroti, dan semoga membawa hikmah bagi kita adalah, bahwa meskipun India kelihatannya miskin (padahal pertumbuhan ekonominya di atas Indonesia), nyatanya tidak semiskin yang kita sangka. Malah bumi kita yang dari kacamata saya, yang mestinya amat kaya raya ini, dihuni oleh orang-orang serta kepemimpinan bangsa yang serakah.
*****
Saya mendarat di Bandara Internasional Bajpe-Karnataka, dua hari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Tidak ada kesan bahwa bulan itu adalah Bulan Suci Ramadan. Maklum, India mayoritas penghuninya adalah umat Hindu. Saya sendiri berbuka puasa di atas pesawat, dengan suguhan Upuma dan Wadha. Dua makanan tradisional India yang amat murah harganya. Itu pun, sebenarnya jatah makan siang yang saya taruh di depan kursi pesawat untuk bekal berbuka. Saya tahu, mereka tidak akan menyiapkan untuk yang berpuasa. Lagi pula, budget airline seperti Air India Express yang kami tumpangi tidak memberikan pelayanan istimewa kepada penumpang.
Bandara Internasional Mangalore ini amat sederhana. Orang-orangnya tertib antri menunggu giliran pengecekan Flu Babi oleh petugas kesehatan. Tidak terlalu lama prosesnya. Saya segera keluar menuju kota Karkala, sebuah kota kecil sekelas kecamatan di negeri kita, sekitar 75 km dari bandara. Seorang rekan lama bersama keluarganya menjemput saya. Malam itu bandara diguyur gerimis.
Zahoor Ahmad, nama rekan saya, bersama keluarganya, begitu ramah menyambut kedatangan saya diteruskan dengan hari-hari berikutnya menjamu saya sebagai tamu. Mulai dari makanan, diantarkannya saya ke sejumlah tempat bersejarah serta wisata, menikmati suasana Lebaran di daerahnya, serta tentu saja mengunjungi sanak familinya di sejumlah kota.
*****
Kekaguman di hari pertama saya terhadap orang-orang India (setidaknya itu yang saya temui di rumah Zahoor) adalah, binatang-binatang sekelas Burung Merak, berterbangan di halaman rumah. Bahkan masuk ke ruang tamu serta dapur. Padahal burung-burung indah ini tidak dipelihara alias liar. Orang India sepertinya tidak terbiasa memiliki burung-burung dalam sangkar. Atau pemerintah memang tidak mengijinkan, wallahu a’lam!
Di kota-kota lain yang saya kunjungi, seperti Kannur, Calicut, Mangalore, Maysore, Agra, Bangalore hingga Ibu Kota Delhi, juga saya tidak melihat orang-orang yang memelihara binatang-binatang langka di rumahnya. Barangkali hal ini yang membuat binatang-binatang atau burung-burung ini akrab dengan manusia-manusia India. Anak-anaknya Zahoor bahkan dengan akrabnya memberikan makanan pada Burung Merak. Padahal rumah indahnya tidak terletak di tengah hutan belantara seperti Papua. Burung-burung seperti Jalak, Merpati, Camar hingga Tupai yang beragam warnanya, saya temui di banyak tempat berkeliaran yang membuat lingkungan kita merasa asri.
Saya sering mendengar atau membaca di Koran tentang keburukan politisi India. Tapi rasanya tidak sebanding dengan di negeri kita utamanya dalam soal pemeliharaan lingkungan hidup. Saya pernah melihat sungai kotor di Delhi. Tapi pemandangan yang sama tidak saya temukan di kota-kota lainnya. Di Kannur misalnya, sungai masih hijau dan jernih. Padahal sungai besar, lebarnya tidak kurang dari 200 meter. Bau selokan di kota-kota India, tidak seperti yang saya temui di Jakarta atau Surabaya.
Hal ini pertanda bahwa orang-orang India tidak serakah terhadap kekayaan alam atau ingin memilikinya. Hutan Papua milik kita, gunung emas di sana ‘dirampok’ dan digadaikan ke orang asing. Orang kita secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan juga memeliharan binatang atau burung-burung langka, sebagai bagian dari kebanggaan mereka. Saya tidak melihat, jangankan pasar burung, orang jualan sangkar saja sulit ditemui, meski mungkin saja ada di sana. Pabrik-pabrik di negeri kita banyak yang (Baca: dengan ‘seijin’ penguasa) seenaknya membuang limbah.
*****
Hal kedua yang menarik perhatian saya adalah cara berpakaian orang India. Kita memang tahu, orang India suka mengenakan Sari, pakaian tradisional kaum Hawa yang melingkar di tubuh. Bagi kaum Hindu, memang tidak seluruh tubuh tertutup. Sebagian (maaf) perut, terbuka. Namun tidak semua orang Hindu mengadopsi cara mengenakan Sari seperti ini, terutama kaum mudanya. Apalagi Muslimah India. Tertutup. Laki-laki India juga bangga mengenakan Shalwar Gameez atau Kurta atau Dhoti dan lain-lain pakaian tradisional. Zahoor member saya Kurta yang saya kenakan pada saat Lebaran.
Perempuan India, betapapun dari kalangan modern di tengah kota, bangga dengan pakaian tradisional mereka. Sutera di India jauh lebih murah dibanding Indonesia. Kekayaan tekstil yang dimiliki India menjadikan salah satu modal mereka tidak tergoyah ingin meniru dengan pola berpakaian ala Barat. Sekalipun kita tahu di film-film India banyak yang berpakaian seronok. Tapi dalam kehidupan sehari-hari, tidak demikian yang saya temui. Apalagi pakaian mini seperti yang kita temui di negeri ini. Sepertinya tabu, jika anak-anak atau perempuan-perempuan mereka mengenakan rok mini atau celana ketat. Padahal dalam segi pendidikan dan pergaulan, keponakan-keponakan atau saudara Zahoor misalnya, banyak yang berpendidikan tinggi setingkat dokter dan insinyur, mereka tidak tergiur dengan pola pakaian Barat yang mati-matian kita adop di negeri kita.
*****
Budaya konsumsi orang India juga tidak seperti yang kita lihat dalam film-film mereka. Di Karkala, di tengah pasar, saya sulit mendapatkan kertas Tissue. Setelah mengunjungi 10 toko, baru saya mendapatkannya. Itupun sudah usang dan kartun pembungkusnya pun robek. Orang sana tidak tergiur dengan budaya menggunakan tissue. Mereka lebih senang mengantongi sapu tangan. Lagi pula di rumah-rumah, apakah itu di bagian depan, samping atau belakang, umumnya tersedia pipa air untuk cuci tangan atau kaki. Di ruang makan juga tersedia wastafel atau tempat cuci tangan. Jadi mengapa harus menyediakan tissue? Barangkali begitulah pola pikir mereka.
Pasar India tidak seterbuka pasar kita memang. Barang-barang yang ada di sana mayoritas buatan dalam negeri. Sepanjang perjalanan saya di empat negara bagian ini, jarang sekali saya menemui kendaran Toyota. Sesekali saya memang jumpai Innova. Selebihnya, entahlah, orang India lebih bangga mengendarai Maruti, Tata serta Bajaj, hasil rakitan mereka sendiri yang tidak semewah Corolla atau BMW.
India begitu bangga dengan hasil karya mereka sendiri serta tidak silau dengan buatan orang lain, apakah itu Jerman, Amerika hingga Jepang. Mulai dari pakaian, makanan, bahan bangunan, hingga gaya hidup. India tidak serakah dengan gemerlap dari luar pagar negara di anak benua Asia bagian Selatan ini.
*****
Saya menyempatkan melihat buku-buku pelajaran milik dua anak rekan saya, bernama Zaman (kelas dua SMP) dan Zeeshan (kelas 2 SMA). Buku-buku mereka nampak sederhana sekali. Kualitas kertas nya tidak sebagus sebagian besar anak-anak sekolah kita. Saya menemui seorang Dekan di Universitas Manipal dengan mudah. Pula diterima oleh sekretarisnya penuh keramahan. Padahal saya hanyan ingin mmendapatkan sekedar informasi. Di perguruan tinggi kita, jangan harap diterima seorang dekan untuk urusan yang satu ini.
Saya mengunjungi sebuah perguruan tinggi terkenal, Manipal University di kota Manipal. Gedungnya tidak mentereng. Ruang-ruang kuliahnya tidak ber-AC, padahal jika musim panas tiba, suhunya bisa mencapai lebih dari 40 derajat. Berarti panas sekali. Bangku-bangku kayu juga sudah tua untuk ukuran kita, yang bisa diduduki oleh 4 mahasiswa. Dosen-dosen mereka juga kelihatan sederhana. Hal ini bisa saya ketahui lewat pola pakaian mereka serta tentu saja kendaraannya.
Biaya sekolah hingga kuliah tergolong murah sekali. Mengantongi MBA dalam dua tahun hanya menelan biaya sekitar Rp 10 juta, sebuah jumlah yang amat sedikit di negeri kita untuk program pasca sarjana. Uang saku Zaman, ketika saya tanya, dia bilang hanya diberi Ibunya Rupees 150 (tidak lebih dari Rp 40 ribu) per bulan. Berarti hanya Rp 1000 per hari. Apa artinya Rp 1000 di negeri ini? Dia juga berangkat ke sekolah dengan sandal saja. Tapi kemampuan Bahasa Inggrisnya ‘ngewes’, selancar anak-anak kita berbicara Bahasa Jawa saja di kampung-kampung.
Buku-buku India murah sekali. Saya belanja tidak kurang dari 18 kg untuk buku-buku yang sulit mendapatkannya di Tanah Air. Buku-buku profesi yang saya dapatkan dari sana hanya tersedia kalau mau ke Amerika Serikat atau Inggris saja. Buku terbitan India terkesan tidak serakah mengambil keuntungan. Saya jadi heran, kebijakan apa yang diambil oleh generasi-generasiny a Jawaharal Nehru ini, sehingga pendidikan tinggi mudah terjangkau serta buku yang teramat murah, tapi kualitas lulusannya bisa duduk di NASA-USA, terbang ke bulan dan jadi dosen-dosen di banyak universitas ternama di Negeri Paman Sam.
*****
Tempat rekreasi rata-rata murah sekali tiketnya. Padahal kelasnya tidak tanggung-tanggung. Taj Mahal, biaya masuknya hanya Rupees 20 atau hanya sekitar Rp 5 ribu. Coba kalau kita mau masuk Taman Mini atau Ancol? Bandingkan kelasnya dengan Taj Mahal!
Pemerintah India tidak rakus terhadap perolehan hasil pajak dari pariwisata sebagaimana di negeri kita. Travel package pula itungannya murah sekali. Di Delhi, mengunjungi 10 tempat wisata, hanya bayar tidak lebih dari Rp 100 ribu, naik bis Volvo ber-AC. Travel agent tidak terkesan serakah mengambil keuntungan banyak dari pelanggan. Padahal, kami diantar oleh guide-guide professional.
Sebagian tempat wisata malah tidak ditarik iuran (karcis) masuk sama sekali. Saya jadi heran, bagaimana dengan biaya pemeliharaan tempat-tempat ini? Padahal mereka punya tukang-tukang pembersih atau tukang sapu yang kebanyakan perempuan-perempuan bersari. Meski keamanan amat ketat di banyak tempat, tapi petugas keamanan India tersekan ramah terhadap pengunjung. Saya tidak menemui pengalaman yang kurang atau tidak mengenakkan sama sekali selama mengunjungi tempat-tempat wisata ini.
*****
India memang bukan negara kaya. Orang miskin banyak sekali. Banyak tempat juga kurang terpelihara. Jalan-jalan juga banyak yang berlubang. Bangunan di Delhi juga tidak semegah di Jakarta. Komunal konflik juga acapkali marak. India barangkali bukan sebuah percontohan. Maklum, jumlah penduduknya lebih dari 5 kali jumlah penduduk Indonesia. Meski demikian, saya tidak melihat pengemis yang berkeliaran di sana-sini. Saya tidak melihat satu pengemis pun datang ke rumah Zahoor, Abdul Karim Mohammad Koya atau Abdul Azeem. Saya melihat ada pengemis di kota-kota. Tapi juga tidak ‘gentayangan’ seperti di negeri kita yang acapkali mengganggu pengguna jalan, masuk bis-bis, mengetuk jendela mobil hingga ngebel rumah kita yang bisa jadi lebih dari 5 kali sehari.
Tukang amen atau pemusik jalanan? Meski India amat terkenal dengan musik, lagu-lagu dan tarian-tariannya, saya tidak melihat tukang amen atau pemusik atau penyanyi jalanan ini di mana-mana. Tidak pula saya temui satu kali pun mareka masuk di dalam bis atau kereta api. Apalagi mereka yang naruh kotak amal di tengah jalan, tidak pernah saya jumpai.
Di negeri kita? Dalam perjalanan Malang-Surabaya, yang sepanjang 70 km, anda bisa menemui sebanyak angka itu pula yang namanya pemusik dan pengemis. Saya tidak membela pemusik atau pengemis atau penjaja makan di India. Tapi itulah kenyataannya. Mereka tidak serakah mencari pasar. Saya tidak pernah merasa terganggu dengan kehadiran meraka di tempat-tempat wisata atau rumah-rumah rekan yang kami kunjungi.
*****
Pembaca….
Saya tidak mau disebut sebagai orang Indonesia yang kufur akan nikmat Allah. Tapi bencana di Sumatera Barat, banjir si sejumlah daerah, mahalnya bahan-bahan pokok, sulitnya mencari minyak tanah dan gas, tidak terjangkaunya biaya pendidikan dan layanan kesehatan (yang ini di India juga murah sekali), semuanya jadi membuat saya iri dengan apa yang terjadi di India, sebuah negara besar yang mampu melahirkan manusia-manusia besar seperti Mahatma Gandhi, Nehru, Rabindranath Tagore hingga India Gandhi.
Ada banyak PR yang harus digarap oleh pemimpin-pemimpin di negeri ini. Jumlah masjid yang bertebaran di negeri ini (sulit mendapatkan hal yang sama di India), berjimbunnya jumlah majelis taklim serta kajian Agama Islam di televise-televisi, maraknya Da’i-da’i yang bersemangat sekali dalam berceramah memikat umat, sepertinya jauh dari cukup tanpa ada langkah konkrit: bagaimana mengelola sumber daya alam dan potensi manusia Indonesia yang konon sering meraih prestasi di berbagai momen olimpiade ini, agar menjadikan negeri ini lebih baik.
India memang bukan segalanya. Tapi melihat Indonesia dari jendela India, saya jadi bertanya-tanya. Ada apa dengan negeri ini?
Oh ya, pada hari terakhir kunjungan saya di India, di Bandara Mangalore, saya tidak perlu membayar pajak sepeserpun. Sementara di Cengkareng, saya yang asli orang Indonesia, harus bayar Rp 150 ribu, itu belum termasuk biaya fiscal yang konon ‘hanya’ Rp 1 juta, jika anda harus ke luar negeri.

sumber : Shardy2@hotmail. com

Oktober 17, 2009

Upin & Ipin Full Season & The Movie

Diarsipkan di bawah: Internet Stuff — elsabarto @ 12:44 pm

Season Esok Puasa 2007

http://rapidshare.com/files/145259910/Episod_1_-_Esokpuasa_-_aman_evil_syok.org.rar

http://rapidshare.com/files/145261307/Episod_2_-_Dugaan_-_aman_evil_syok.org.rar

http://rapidshare.com/files/145262654/Episod_3_-_Nikmat_-_aman_evil_syok.org.rar

http://rapidshare.com/files/145263961/Episod_4_-_Terawih_-_aman_evil_syok.org.rar

http://rapidshare.com/files/145265515/Episod_5_-_Esokraya_-_aman_evil_syok.org.rar

http://rapidshare.com/files/145266897/Episod_6_-_Dahraya_-_aman_evil_syok.org.rar

Season Setahun Kemudian 2008

http://rapidshare.com/files/145268429/Episod_7_-_Tadika_-_aman_evil_syok.org_1.rar

http://rapidshare.com/files/145269919/Episod_8_-_Anak_Bulan_-_aman_evil_syok.org.rar

http://rapidshare.com/files/145271163/Episod_9_-_Adat_-_aman_evil_syok.org.rar

http://rapidshare.com/files/145272325/Episod_10_-_Tamak_-_aman_evil_syok.org.rar

http://rapidshare.com/files/145273559/Episod_11_-_Lailatul_Qadr_-_aman_evil_syok.org.rar

http://rapidshare.com/files/145274790/Episod_12_-_Kisah_dan_Tauladan_-_aman_evil_syok.org_.rar

http://rapidshare.com/files/154459948/Episod_13_-_Sayang_Kak_Ros_-_aman_evolution.rar

http://rapidshare.com/files/154460565/Episod_14_-_Ketupat_-_aman_evolution.rar

http://rapidshare.com/files/154461319/Episod_15_-_Zakat_Fitrah_-_aman_evolution.rar

http://rapidshare.com/files/154462069/Episod_16_-_Malam_Syahdu_-_aman_evolution.rar

http://rapidshare.com/files/154462774/Episod_17_-_Pagi_Raya_-_aman_evolution.rar

http://rapidshare.com/files/154459338/18_-_Berkat_-_www.aman-evolution.forum6.info.rar

Season Upin & Ipin dan Kawan – Kawan 2009

Air Kolah Air Laut, Basikal Baru, & Gosok Jangan Tak Gosok

part 1 – http://www.mediafire.com/?jz8wemt9kxg
part 2 – http://www.mediafire.com/?0utezaj29yj
part 3 – http://www.mediafire.com/?tt9vzidjoip
part 4 – http://www.mediafire.com/?9mmwxjc3vww

Kisah Dua Malam

http://www.mediafire.com/?jknxgzmhhyl

http://www.mediafire.com/?ditmwxyjjtm

Istimewa Hari Ibu

v5daow

Video
Movie: Upin dan ipin 2009
Format: .AVI
Video Codec: XVID 640×352
Audio Codec: MPEG Audio Layer 3

Download-2

or

Kembara ke Pulau Harta Karun

 

v5daow

Video
Movie: Upin dan ipin 2009
Format: .AVI
Video Codec: XVID 640×352
Audio Codec: MPEG Audio Layer 3

Download-2

1.part 1     - http://www47.indowebster.com/0ff21da3efb8b14723828595047fbd3c.avi

or


Seronoknya Membaca

 

v5daow

Video
Movie: Upin dan ipin 2009
Format: .AVI
Video Codec: XVID 640×352
Audio Codec: MPEG Audio Layer 3

Download-2

or


Berpuasa Bersama Teman Baru

 

v5daow

Video
Movie: Upin dan ipin 2009
Format: .AVI
Video Codec: XVID 640×352
Audio Codec: MPEG Audio Layer 3

Download-2

or


Selamat Menyambut Hari Lebaran

v5daow

Video
Movie: Upin dan ipin 2009
Format: .AVI
Video Codec: XVID 640×352
Audio Codec: MPEG Audio Layer 3

Download-2

or

geng_Meluncur

Movie download dengan extension file rmvb DVDRip 285 Mb :

selamat menikmati ;)

silahkan segera download, sb klo linknya dah mati jg komplen ke saya :lol:

Oktober 4, 2009

Ulurkan Bantuan Anda untuk Korban Gempa Sumbar, Jambi & Sekitarnya.

Diarsipkan di bawah: Lingkungan — elsabarto @ 12:21 pm


Gempa besar berkekuatan 7,6 Skala Richter meluluhlantakkan kota Padang dan sekitarnya pukul 17.16 pada tanggal 30 September lalu. Gempa susulan terjadi pada pukul 17.58. Keesokan harinya, 1 Oktober kemarin, gempa berkekuatan 7 Skala Richter kembali menggoyang Jambi dan sekitarnya tepat pukul 08.52.

Gempa di Padang jam 17.16, gempa susulan 17.58, esoknya gempa di Jambi jam 8.52. Coba lihat Al-Qur’an! Siapa pun yang membuka Al-Qur’an dengan tuntunan pesan  akan merasa kecil di hadapan Allah Swt. Demikian ayat-ayat Allah Swt tersebut:

17.16 (QS. Al Israa’ ayat 16): “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

17.58 (QS. Al Israa’ ayat 58): “Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuz).”

8.52 (QS. Al Anfaal: 52): (Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.”

Dengan adanya berbagai “kebetulan” yang Allah Swt sampaikan dalam musibah gempa kemarin ini, Allah Swt jelas hendak mengingatkan kita semua.

seorang nenek korban gempa yang sedang menunggu bantuan

seorang nenek renta yang sedang menunggu datangnya bantuan

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, banyak korban musibah gempa di Sumatera Barat, Jambi & sekitarnya.
Mari kita ikut menyalurkan bantuan, dalam bentuk & sekecil apapun,  melalui apa saja, untuk meringankan musibah dan meringankan beban yang menimpa para korban. Minimal kita bisa mendoakan semoga Allah SWT memberikan ketabahan kepada hati mereka. Amin ya rabbal alamin.

Bantuan salah satunya dapat disalurkan melalui MER-C di

1. BCA cabang Kwitang

no. Rek. 686.0099339

atas nama Medical Emergency Rescue Committee

2. Bank Syariah Mandiri (BSM) cabang Kramat

No. Rek. 128.0011802

atas nama Medical Emergency Rescue Committee

dari berbagai sumber

Pelanggan Telkomsel :
Telkomsel menyediakan layanan SMS Peduli bagi pelanggan yang ingin memberikan sumbangan bagi para korban bencana gempa bumi di Sumbar. Cukup ketik SUMBANG dan kirim ke 5000. Seluruh hasil sumbangan akan disalurkan melalui PMI.

Pelanggan Indosat :
Mari bantu korban bencana gempa di Sumatera Barat dengan mengirimkan SMS Donasi
Caranya : ketik SUMBAR kirim ke 5000
Setiap SMS donasi senilai Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah) ini akan disumbangkan untuk membantu saudara – saudara kita yang mengalami bencana di Sumatera Barat.

Pelanggan XL :
XL juga membuka layanan SMS Donasi untuk mempermudah pelanggan yang hendak menyalurkan donasi bagi korban bencana gempa ini. Pelanggan dapat mengirimkan donasi
Caranya, Ketik SUMBAR, kirim ke 2000 (untuk donasi Rp.2.000) atau 5000 (untuk donasi Rp.5.000).
Seluruh donasi dari pelanggan akan didonasikan tanpa pungutan tarif apapun. Donasi akan disalurkan melalui lembaga sosial melalui berbagai program yang dibutuhkan.

Pelanggan Axis :
Untuk mengirimkan sumbangannya, pelanggan axis dapat dengan mudah mengirimkan SMS dengan format DONASI ke nomor 1111. Contoh DONASI 50.000 kirim ke 1111 untuk menyumbang sejumlah Rp 50.000. Tersedia pula nilai sumbangan Rp 5.000 dan Rp 20.000.
Semua pelanggan AXIS dapat berpartisipasi dalam program ini dan dapat mengirimkan lebih dari satu SMS. Nominal sumbangan akan diambil dari pulsa pelanggan dan tidak dikenakan biaya SMS.

Pelanggan Esia :
Untuk itu pelanggan Esia cukup mengetik “SUMBAR“ dikirimkan ke nomor 5000. Keseluruhan program untuk Padang tersebut berlaku selama satu bulan mulai 3 Oktober 2009 hingga akhir Oktober 2009.

Pelanggan Telkom Flexi :
Cukup mengirim SMS berisi kata PEDULI dan dikirim ke nomor 5000

Blog pada WordPress.com.