Sebelum merantau dan akhirnya saat ini saya menjadi penduduk tetap Kota Sukabumi, saya adalah wong Solo asli yang lahir dan menuntut ilmu sampai SMA di kota Surakarta atau lebih populer disebut Solo.
Solo menawarkan banyak pilihan wisata, baik wisata sejarah, wisata alam dan wisata kuliner.
Langsung saja saya akan membahas sebagian kekayaan kuliner dari kota Solo yang terkenal maknyoooosssss & ngangenniii
Nasi Liwet Solo Bu Wongso Lemu
Belum lengkap rasanya ke Solo kalau belum menikmati nasi liwet, masakan khas kota Bengawan ini. Di Solo, masakan ini biasanya tersedia pada pagi hari untuk sarapan, atau untuk santap malam. Jarang sekali nasi liwet dijadikan sebagai menu makan siang.
Tak hanya istimewa dalam hal rasa, dari segi penyajian pun nasi liwet menunjukkan eksotisnya sebuah tradisi. Mbok-mbok penjaja nasi liwet menggendong sebuah bakul di punggungnya. Di atas bakul itu, dalam gulungan daun pisang yang makin meninggi tersimpan nasi liwet beserta ubarampe-nya.
Nasi liwet adalah nasi putih yang diliwet (ditanak) bersama santan dan kaldu ayam dengan dibubuhi sedikit garam hingga rasanya menjadi gurih dan beraroma pandan yang wangi. Nasi semacam ini mengingatkan pada nasi uduk Betawi. Sebagai lauk atau pelengkapnya adalah sambal goring labu siam dan daging ayam yang dimasak ungkep, yaitu ayam utuh yang direbus bersama dengan bumbu kemudian diangkat dan ditiriskan.
Nasi liwet disajikan dalam sebuah pincuk atau wadah dari daun pisang yang salah satu bagiannya ditekuk dan disemat dengan lidi. Sendoknya menggunakan suru, juga dari daun pisang yang difungsikan untuk mengambil makanan. Tapi bagi yang tak bisa menggunakannya biasanya diberi sendok biasa.
Nasi liwet Solo bisa ditemui di berbagai sudut kota karena ada puluhan penjual makanan khas ini di Kota Bengawan. Mereka seperti penjual jamu gendong, menjajakan dagangan berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain. Bila ada pembeli tinggal menurunkan gendongan dan melayaninya di tempat.
Meski demikian ada beberapa penjual nasi liwet yang buka dagangannya menetap ala kaki lima, bongkar pasang tenda di tempat-tempat tertentu. Beberapa nasi liwet kaki lima ini ada di atas trotoar sepanjang jalan protocol Slamet Riyadi.
Melegenda
Membicarakan warung makan nasi liwet di Solo, tak bisa dipisahkan dari keberadaan nasi liwet Wongso Lemu. Dirintis sejak tahun 1951 oleh Bu Wongso Lemu, nasi liwet ini setia menjadi klangenan warga kota Solo yang ingin menikmati gurihnya nasi liwet.
Dalam perkembangannya, nasi liwet Wongso Lemu kini dikembangkan oleh keturunannya. Tak kurang lima warung makan nasi liwet menempati ruas Jalan Teuku Umar, Keprabon, dekat jalan protocol Slamet Riyadi. Warung-warung ini milik klan Wongso Lemu yang sudah melegenda itu.
Semua warung mengklain penerus nasi liwet Wongso Lemu karena mereka memang anak cucu Bu Wongso Lemu. Meski demikian satu dengan lainnya tidak saling menjatuhkan, warung yang satu tidak menyebut lainnya palsu dan begitu pula sebaliknya. Mungkin inilah semangat kerukunan yang dipertahankan keturunan Bu Wongso Lemu. Di masing-masing warung itu terpampang foto-foto para selebritis yang pernah berkunjung dan menikmati nasi liwet mereka.
Gurih
Nasi liwet seolah adalah gabungan dari semua yang serba gurih. Coba saja cicipi nasinya yang gurih itu. Nasi gurih itu selanjutnya dipadukan dengan sambal goreng labu siam pedas yang kuahnya sedikit menggenang atau nyemek dalam istilah setempat. Di atasnya ditambah sesendok makan santan kanil, yakni santan kelapa yang dimasak sampai kental dan sangat gurih. Untuk ayamnya pembeli tinggal memilih kepala, jeroan, kaki, atau uritan (calon telur yang masih di dalam perut).
Karena sudah menjadi trademark nasi liwet, deretan warung anak cucu Bu Wongso Lemu yang serentak buka dari pukul empat sore hingga dua dini hari ini menjadi tujuan para penggemar makanan ini. Banyak warga setempat yang menjamu saudara, rekan, atau teman kerja yang berkunjung ke kota Solo. Hanya dengan Rp10.000 sepincuk nasi liwet komplet dengan sepotong ayam akan memuaskan perut pengunjung.
“Saya selalu mengajak saudara atau teman dari luar kota yang ingin menikmati nasi liwet,” ujar Eko, seorang detailer obat-obatan yang sedang menjamu rekan bisnisnya dari Jakarta. Di sini menurutnya cukup representatif dibandingkan warung nasi liwet lainnya yang tidak permanen.
Selain nasi liwet, tersedia pula makanan lain yang khas Solo seperti cabuk rambak dan ketan bubuk. Cabuk rambak terdiri atas ketupat yang dipotong-potong dan disiram sambal wijen yang dicampur irisan lembut daun jeruk purut. Di atasnya ditaruh sepotong karak beras, sedangkan ketan bubuk adalah nasi ketan yang dibubuhi kedelai sangria yang sudah dihaluskan.
NASI LIWET WONGSO LEMU
Jl. Teuku Umar, Keprabon, Solo.
Jam buka: 16.00 – 02.00.
Kapasitas tempat duduk: 25 orang.
Kisaran harga: Rp 3.000 – Rp 10.000 per porsi.
Gudeg Ceker Margoyudan
Nah warung gudeg ceker ini terletak tidak jauh dari sekolah saya, SMA Negeri 1 Surakarta.
Buka Pukul 01.30
Orang-orang itu, baik yang nongkrong di atas sepeda motor maupun yang di dalam mobil memang tengah menunggu Bu Kasmo duduk di belakang dagangannya, Gudeg Ceker Margoyudan yang amat terkenal itu. Meski dagangan sudah tergelar dan tampaknya semuanya sudah siap, jangan harap segera dilayani kalau Bu Kasno belum duduk manis di situ.
Menjadi pertanyaan, mengapa orang-orang itu rela antri menunggu di pinggir jalan, diterpa angina dingin, bahkan kadang-kadang ditemani rinai hujan. Jawabannya adalah untuk menikmati sepiring gudeg dengan pelengkap ceker ayam yang tak hanya dikenal oleh orang Solo, tapi juga orang dari kota-kota lain yang pernah berkunjung ke Solo.
Warung kaki lima yang menggelar dagangan tepat pukul 01.30, saat orang-orang sebenarnya masih dibuai mimpi ini dikenal dengan warung gudeg ceker karena menu spesialnya adalah gudeg dengan pelengkap ceker (kaki ayam). Orang juga biasa menyebut Warung Gudeg Margoyudan karena berdiri di atas trotoar Jalan Wolter Mongonsidi, Margoyudan, tepat di sebelah kanan Gereja Kristen Jawa Margoyudan.
Bu Kasno (64 tahun) pendiri warung sejak tahun 1970 ini sebenarnya tak hanya menyediakan gudeg ceker karena ada juga bubur lemu dan opor ayam kampong. Tapi tetap saja menu andalannya adalah gudeg ceker. Pengorbanan para pelanggan yang antri sejak tengah malam melawan kantuk dan dingin akan segera terbayar begitu sepiring nasi gudeg terhidang di hadapannya. Gudegnya terasa demikian gurih dengan siraman santan kanil (santan yang dimasak kental) dan beberapa potong sambal goring rambak.
Di luar itu, yang pasti ditunggu pelanggan adalah ceker yang dimasak dalam kuah santan. Keistimewaan ceker ini adalah dengan sedikit kunyahan dagingnya seperti langsung terpisah dari tulang-tulangnya. Klunyum-klunyum, begitu orang Jawa menyebut. Maka daging ceker dengan tekstur khas yang gurih itu pun akan memuaskan rasa penasaran orang yang pertama kali datang menikmatinya.
Dari Sopir Sampai Presiden
Keistimewaan gudeg ceker Margoyudan pun dinikmati orang-orang dari berbagai golongan, dari sopir-sopir taksi untuk mengisi perut saat tugas pada malam hari hingga pagi sampai presiden. Tentu adalah kebanggaan tersendiri bagi Bu Kasno, tiga presiden Negeri ini pernah menikmati hasil olahannya, yakni Soeharto, Abdurrachman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri.
Melihat plat-plat mobil yang parkir di sekitarnya, kelihatan pengunjung dari luar kota justru yang mendominasi warung ini. Mereka adalah wisatawan atau karyawan yang sedang mengadakan seminar di Solo. Mereka mendapat informasi adanya warung ini dari hotel atau dijamu relasi. Bagi orang-orang tersebut, menikmati gurihnya gudeg ceker pada dini hari yang dingin dan harus melawan kantuk boleh jadi merupakan sensasi tersendiri yang tak bakal ditemui di kota-kota lain.
Salah satu pengunjung, Prasetyo, seorang karyawan bank yang datang berombongan mengatakan ia menjamu rekan-rekan dari kantor pusat yang sedang melakukan survey di Solo. “Mereka minta ditraktir makan yang spesial di Solo, ya akhirnya saya ajak ke sini,” ujar lelaki 30-an tahun yang mengatakan semula rekan-rekannya malas diajak keluar pada dini hari yang dingin itu. “Tapi akhirnya semua puas,” ujarnya lagi.
Tak hanya dinikmati orang-orang di Indonesia, guded ceker Bu Kasno sempat melanglang ke luar Negeri. Ceritanya, salah satu anaknya yang menempuh pendirikan S2 di Prancis membawa sang ibu ke Negara itu untuk memasak gudeg ceker buat teman-temannya.
Itulah gudeg ceker, meski hanya kaki lima di trotoar, masakan ini telah menghidupi Bu Kasno dan keluarganya. Sejak ditinggal berpulang suaminya tahun 1980, Bu Kasno menghidupi dan menyekolahkan lima anaknya sampai jenjang sarjana dari usaha ini. Ia menolak menjawab berapa omset per harinya. “Yang penting bisa untuk sekolah anak-anak,” jawabnya. Meski demikian kita bisa meraba berapa omset harian warung ini karena setiap hari Bu Kasno menghabiskan sekitar 1000 ceker ayam, 30 ekor ayam potong, dan 15 kg telur. Pada hari-hari libur jumlahnya lebih besar lagi karena pengunjung pun bertambah banyak.
Dengan membayar Rp10.000, pengunjung bisa menikmati gurihnya sepiring gudeg, 10 buah ceker, dan segelas teh panas manis. Tapi ingat, jangan datang lebih dari jam 03.00 pagi karena bisa-bisa Anda kehabisan ceker yang terkenal itu. Mending datang lebih awal, karena sepiring gudeg dengan cekernya yang terkenal itu akan membuat Anda puas.
GUDEG CEKER MARGOYUDAN
Jl. Wolter Mongonsidi, Margoyudan, Solo.
Jam buka: 01.30 – 03.00.
Kapasitas tempat duduk: 30 orang.
Kisaran harga: Rp7.000 – Rp10.000 per porsi.
Harjo Bestik
Tenda biru di pinggir Jalan Dokter Rajiman dekat lampu merah Pasar Kembang dengan spanduk kuning mencolok bertuliskan Harjo Bestik besar-besar itu sekilas tampak seperti kebanyakan warung kaki lima lainnya yang bertebaran di seantero kota Solo. Tapi melihat dua orang tiada hentinya memasak dengan cekatan di samping tenda, para pelayan hilir mudik dan tamu-tamu yang antri menunggu pesanan, pasti ada sesuatu yang istimewa di sini.
Memang di sinilah salah satu tempat para penikmat makanan memanjakan lidah sepuasnya. Warung tenda kaki lima Harjo Bestik, sesuai namanya, menyediakan aneka bistik yang diolah oleh ahlinya, sehingga menghasilkan masakan yang benar-benar membelai lidah para pengunjungnya.
Susah sebetulnya mendefinisikan apa itu bistik karena dalam dunia kuliner istilah itu tidak dikenal. Masakan ini mungkin mengacu pada steak, daging sapi panggang makanan wajib para koboi di Amerika sana. Atau barangkali juga berhubungan dengan kata biefstuk, masakan kegemaran orang Belanda berbahan daging sapi dengan banyak kuah. Tapi sudahlah tak perlu kita berpusing-pusing soal ini karena kenyataannya bistik telah hadir di khasanah masak-memasak Indonesia dan memiliki penggemarnya sendiri.
Aneka Bistik
Warung kaki lima Harjo Bestik menunjukkan bagaimana sebuah masakan diadaptasi dan dikembangkan sedemikian rupa mengikuti selera lokal, khususnya lidah orang Indonesia. Jika biefstuk berbahan utama daging sapi, bistik warung ini bisa terbuat dari bahan lain, lidah sapi atau bahkan brutu dan uritan ayam.
Brutu adalah bagian belakang ayam yang banyak digemari karena rasanya yang sangat gurih, sementara uritan adalah calon telur yang masih berada di dalam perut ayam. Di tangan Bu Mujiyati, pemilik warung yang merupakan generasi ketiga Mbah Harjo, brutu dan uritan diolah menjadi bistik yang luar biasa lezatnya.
Tapi tentu saja tak hanya dua menu itu yang tersedia di sini karena ibu berusia 42 tahun itu juga menyiapkan menu-menu lain yang tak kalah menggoda lidah. Sebut saja LDG, menu favorit pelanggannya. LDG adalah singkatan lidah goyang, berbahan utama lidah sapi, bistik dadar lidah, dan bistik campur yang merupakan campuran berbagai bahan. Ada juga bistik telon, terdiri atas tiga jenis daging sesuai pilihan pelanggan.
Seporsi bistik lidah goyang terdiri atas lima potongan lidah sapi dipadu irisan kentang, wortel, selada hijau, tomat, acar timun, dan mayones atau moster. Kuah berwarna coklat yang merendam lidah dan aneka sayuran itu diramu dari tumisan mentega, bawang merah, bawang bombai, ditambah kuah kaldu ayam, kecap manis dan asin, garam, serta merica. Bayangkan betapa segarnya kuah itu!
Serupa dengan bistik goyang lidah, bistik campur disajikan dengan tambahan daging sapi cacah. Sementara itu, bistik dadar lidah adalah lidah yang terbungkus telur dadar dan direndam kuah bistik.
Penyiapan menu memerlukan waktu sekitar setengah jam karena semua dimasak serba mendadak. Ternyata itulah rahasia kelezatan warung kaki lima ini. Mujiyati dengan cekatan memperlihatkan bagaimana tumisan bumbu, potongan daging sapi dan ayam mentah dimasak bersamaan dengan kuah kaldu, bukan sudah disiapkan sebelumnya dan disimpan dalam panci. Kecuali lidah sapi yang sebelumnya sudah direbus selama empat jam hingga empuk.
Ketika sepiring hidangan disajikan, kepulan asapnya menebar harum aroma kuah bistik yang langsung merangsang pencernaan. Sekali menyendok, sukar menghentikannya karena keempukan daging maupun lidah sapi yang berpadu dengan kesegaran kuah bistiknya. Seperti adat Melayu pada umumnya saat bersantap, sebagai pendamping bistik adalah sepiring nasi putih pulen yang membuat perut terasa kenyang.
“Elek-elekan”
Meski menu favorit pengunjung adalah bistik lidah, tapi warung kaki lima yang buka dari jam 18.00 hingga tengah malam ini juga memiliki menu andalan lain, seperti risoles kuah, elek-elekan, dan bakmi. Orang tentu penasaran, apa itu elek-elekan, selain asing juga tak tertera pada daftar menu.
Menurut Mujiyati, elek-elekan adalah bonggol lidah sapi yang tidak terpakai di bistik. Awalnya, bonggol-bonggol lidah sapi itu digorengnya sendiri untuk disantap dia dan para karyawannya di sela-sela melayani tamu bersama sambal kecap atau sambal bawang ditemani nasi putih.
Mujiyati tak berani menawarkan terang-terangan karena dinilai kurang pantas disandingkan dengan menu bistik di warungnya. Suatu saat, seorang pelanggan melihat gorengan bonggol lidah sapi itu dan tertarik mencobanya. Sejak saat itu ia tak lupa memesan elek-elekan lengkap dengan sambal kecapnya. Lama-lama pelanggan lain tahu tentang elek-elekan dan turut memesannya. Kendati demikian, Mujiyati tetap tidak mau mencantumkan menu itu dalam daftar menu Harjo Bestik. Menu ‘aneh’ ini hanya beredar dari mulut ke mulut.
Meski berstatus kaki lima dengan harga rakyat, antara Rp9.000 hingga Rp15.000 per porsi, tapi karena kelezatannya, warung ini berhasil menjaring pelanggan para pesohor negeri ini, dari seniman Setiawan Jodi, Guruh Soekarnoputra, Mamiek Podang, hingga politikus seperti Amien Rais, Hari Sabarno, dan Hatta Rajasa. Termasuk juga para pejabat Pemkot Surakarta yang rutin berkunjung.
Ditemani live music dari serombongan pengamen lokal dengan lagu-lagu keroncong mendayu-dayu, menyantap segarnya Bistik Jowo Mbah Harjo sungguh pengalaman tak terlupakan saat berkunjung ke Solo.
Bakmi Yu Nani
Tanyakan pada warga Solo, makanan apa yang cocok disantap saat siang yang terik maupun saat dinginnya hujan. Sebagian besar mungkin akan menjawab bakmi ketoprak. Meski menyandang nama hampir sama, bakmi ketoprak Solo sangat berbeda dengan mi ketoprak Jakarta. Mi ketoprak Jakarta berbahan lontong dengan bihun yang disiram sambal kacang tanah, sedangkan bakmi ketoprak di Solo terdiri atas irisan kubis, sosis, tahu, tempe, dan potongan daging dalam kuah kaldu. Di atasnya ditaburkan kacang tanah goreng dan kerupuk karak beras yang diremas-remas.
Rela Antri
Ke mana mencari bakmi ketoprak di Solo yang paling pas di lidah? Warung Bakmi Ketoprak Yu Nani-lah jawabnya. Pengalaman selama 40 tahun lebih meracik dan berjualan makanan khas Solo ini menjadikan warung kaki lima di pinggir jalan ini menjadi tujuan para penggemar bakmi ketoprak di Solo dan sekitarnya. Sejak buka pukul 10.30 hingga tutup menjelang maghrib, warung di pinggir Jalan Kartopuran 13 ini tak pernah sepi disambangi pembeli.
Layaknya sebuah tempat makan yang laris, jangan harap bisa bersantai sehabis menyantap hidangan di warung ini karena saat kita makan pun sudah diantri para pengunjung yang berdiri di belakang. Karena itu buru-burulah berdiri setelah menikmati sepiring bakmi ketoprak dan segelas es kelapa muda gula jawa kalau tidak mau dipelototi pengunjung lain yang sudah antri.
Kesan pertama melihat sepiring bakmi ketoprak adalah kesegaran masakan ini. Bayangkan, irisan daun kubis, tempe, tahu, potongan daging sapi terendam kuah kaldu yang berkilat-kilat. Biji-biji kacang tanah goreng dan remasan karak beras mengapung di atasnya, sementara itu irisan cabai rawit merah menjadi pelengkapnya.
Begitu menyendok dan memasukkannya ke dalam mulut, lidah akan langsung mencecap sebuah cita rasa segar dan ringan. Kuah kaldunya memberi sensasi kelezatan daging sapi yang khas. Sesekali biji-biji kacang tanah goreng yang tergerus gigi akan meninggalkan rasa gurih di mulut. Bagi yang suka pedas, masukkan irisan cabai rawit sebanyak-banyaknya sampai mulut “terbakar.” Namun bagi yang kurang suka pedas, seujung sendok makan irisan cabai rawit merah sudah cukup, memberi rasa manda-manda atau istilah orang Solo klenying-klenying.
Selain soal pedas yang tergantung selera, pengunjung warung ini juga bisa memesan bakmi ketoprak komplet atau tanpa salah satu bahan racikannya. Bakmi ketoprak komplet terdiri atas irisan kubis, tempe, tahu, sosis daging dan potongan daging sapi. Jika mengkehendaki, pengunjung bisa mengurangi salah satu atau beberapa bahan. Misalnya tanpa irisan kubis atau tanpa tempe dan tahu.
Sudah 40 tahun, Bumbu Tak Berubah
Menurut Mbak Yuyun, cucu Yu Nani yang sekarang meneruskan usaha neneknya itu, bakmi ketoprak ini sudah ada lebih dari 40 tahun lalu. Sejak dulu lokasi berjualannya tak berubah, demikian pula bahan racikan dan bumbunya sehingga pelanggan setianya tak pernah komplain.
Bagi warga Solo yang pernah menikmati segarnya bakmi ketoprak Yu Nani dan kini dalam perantauan, saat mudik ke Solo pasti menyempatkan diri datang ke warung ini untuk bernostalgia. Apalagi cita rasa dan cara penyajiannya tak berubah sedikit pun sejak puluhan tahun lalu. Iga Mawarni misalnya, penyanyi jazz ini kerap menyambangi warung Yu Nani kalau pas mudik ke Solo.
Tak hanya warga Solo, masyarakat di sekitar Solo yang pernah menikmati bakmi ketoprak Yu Nani dipastikan akan mampir ke warung ini kalau kebetulan ada acara di kota ini. Mobil-mobil bernomor polisi daerah di sekitar Solo yang setiap hari terlihat berjajar di sekitar warung ini menunjukkan pelanggan setia Bakmi Ketoprak Yu Nani bukan hanya masyarakat Kota Bengawan.
Mas-mas ganteng, mbak-mbak cantik, dan bapak ibu berpenampilan rapi itu tidak keberatan berdiri antri menunggu giliran duduk di bangku-bangku panjang warung Yu Nani. Mbak Yuyun, yang duduk di balik meja besar dengan ramah akan meracik bakmi ketoprak langsung di depan pengunjungnya.
Meskipun berada di tempat yang pengap dan kurang representatif, pengorbanan pengunjung yang antri menunggu giliran duduk akan terbayar lunas saat sepiring bakmi ketoprak terhidang di hadapannya. Dengan hanya membayar Rp6.000 untuk sepiring bakmi ketoprak pengunjung akan merasa puas meninggalkan warung sederhana ini.
BAKMI KETOPRAK YU NANI
Jl. Kartopuran 13, Solo.
Jam buka: 10.30 – 17.00.
Kapasitas tempat duduk: 15 orang.
Kisaran harga: Rp6.000 seporsi
Ayam Kampung Goreng Mbah Karto
Mencari tempat makan dengan menu ayam goreng seperti membalik telapak tangan karena di setiap sudut kota pasti ada, mulai dari kelas kaki lima di pinggir jalan hingga restoran mewah di gedung-gedung megah. Tapi mencari yang benar-benar gurih dan renyah tentu hanya ada segelintir.
Ayam Kampung Kemanggang
Namun di Sukoharjo, kota kecil sekitar 10 km selatan Solo, tepatnya di Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto 8, di depan PLN Sukoharjo, ada tempat makan dengan menu ayam goreng yang demikian special sampai pelanggannya harus rela antri menunggu giliran dilayani. Padahal di dalam pendopo rumah yang dijadikan tempat makan itu terdapat tidak kurang dari sepuluh meja besar dengan bangku-bangku yang mengelilinginya.
Saat pukul 12.00-13.00 suasana di sekitar tempat makan tersebut seperti sedang digelar hajat. Mobil-mobil dan puluhan motor berjajar di halaman dan jalan di depan rumah itu, sementara orang-orang lalu lalang keluar masuk rumah menikmati gurih renyahnya ayam goring hasil olahan Mbah Karto.
Selain masyarakat umum yang menjadi pelanggannya. Ayam Goreng Mbah Karto juga menjadi tempat favorit para pejabat di daerah ini dan sekitarnya untuk bersantap. Tak kurang seleb ibukota yang pernah mendengar gurih renyahnya ayam goreng Mbah Karto datang menjajalnya, seperti almarhum Dono Warkop.
Untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan yang hilir mudik itu, tempat makan ini setiap hari menyembelih tidak kurang dari 200 ekor ayam kampung. Pada hari-hari libur, jumlah pengunjung bakal bertambah banyak. Alhasil, ayam kampung yang digoreng pun bisa lebih dari 250 ekor.
Dimulai dari perjuangan almarhum Mbah Kartodimejo menjajakan atam goring lebih dari 20 tahun lalu, tempat makan ini boleh jadi yang terbesar di daerah ini. Salah satu rahasia tempat makan ini menjerat para penikmat makan enak adalah bahan bakunya berupa ayam kampung kemanggang, yaitu ayam yang umurnya baru 4-6 bulan.
Ayam kampung seusia ini ukurannya belum maksimal, dagingnya masih empuk, tidak liat seperti ayam-ayam kampong berumur di atas setahun. Di kalangan orang Jawa ayam seukuran ini biasanya digunakan untuk pelengkap sesajian. Disebut kemanggang karena ayam ini dimasak dengan cara dipanggang dekat bara api.
Oleh karena masih muda, ayam kemanggang menghasilkan ayam goreng yang renyah. Dengan racikan bumbu yang pas, ayam yang renyah tersebut juga terasa sangat gurih. Istimewanya lagi, bumbunya bisa meresap ke serat-serat daging bagian dalam sehingga citarasa gurih tidak hanya di permukaan, tapi sampai ke bagian terdalam daging.
Di tempat makan sederhana yang meriah ini, pengunjung bisa memesan bagian-bagian tertentu dari ayam, misalnya satu piring penuh berisi kepala saja, paha saja, atau hanya memesan sepiring khusus jeroan. Di sini, makan ayam goreng tidak hanya selalu dengan nasi karena kerenyahan dan kegurihannya, ayam goring Mbah Karto juga cocok dijadikan snack atau makanan ringan.
Sambal Miri
Sebagai lauk makan nasi, gurih renyahnya ayam goring Mbah Karto lebih lengkap ditemani sambal bawang dan lalap mentah seperti di kebanyakan tempat makan lainnya. Namun, di warung makan Mbah Karto ini masih ada elemen lain yang juga menjadi andalannya, yakni sambal miri. Sesuai namanya, sambal ini berbahan dasar kemiri dengan sedikit cabai merah sehingga tidak sepedas sambal bawang putih. Biasanya kedua jenis sambal ini disajikan bersama sehingga pelanggan tinggal memilihnya. Oleh karena berbahan kemiri, sambal ini memiliki cita rasa campuran antara gurihnya biji-bijian dan aroma minyak nabati yang khas. Bagi yang tidak suka pedas, mencocolkan ayam goring yang gurih renyah ke sambal kemiri sungguh terasa nikmat.
Usai menyantap ayam goreng, hidangan penutupnya tersedia tapai ketan buatan sendiri yang tak kalah istimewa. Tapai berwarna hijau dengan aroma pandan terbungkus daun pisang ini terasa kesat, lumat di mulut, dan manis alami hasil fermentasi. Alhasil, rasa tidak nyaman di mulut setelah menyantap makanan berminyak pun sirna diganti rasa manis “sriwing-sriwing” tapai ketan.
Soal harga, tak perlu khawatir. Hanya dengan merogoh kantong sekitar Rp80.000 untuk delapan orang kita sudah bisa menikmati ayam goring yang gurih renyah, nasi putih, lalap, sambal bawang, sambal kemiri, es jeruk, dan tapai ketan sampai kenyang.
AYAM GORENG MBAH KARTO
Jl. Jaksa Agung R. Soeprapto 8, Depan PLN Sukoharjo
Jam buka: 07.00-18.00
Kapasitas tempat duduk: sekitar 80 orang.
Kisaran harga: Rp80.000 sudah komplet untuk 8 orang.
Sumber : Agromedia